Laman

Selasa, 16 September 2014

i love you americano man (ff)


Autor: Shin Yuna 
Rating: PG-15
Genre: romance, AU
Length: one shoot

cast:
-        Lee Jungshin (CNBLUE)
-        Seo Yuna (AOA)
-        Jung Yonghwa (CNBLUE)
-        Kwon Mina (AOA)
-        Kim Chanmi (AOA)
-        Lee Jonghyun (CNBLUE)

Disclaimer:
Aku buat ff ini aslinya cuman membalaskan dendam dengan khyalanku/? aku iseng-iseng lagi berhayal di some famous coffee shop /? (namanya kusensor ya XP)Ini semua murni inspirasaku no kopas loh :( Semua tokoh milik Tuhan, FNC, CNBLUE, AOA, BOICE, ELVIS, dan tentu umma appa dan keluarga mereka /? Ff ini murni hanya imajinasi ya!

Note:
kalo ada kesamaan ide dan latar mianhae :( semua orang terkadang memiliki kesamaan tanpa hasil contek mencontek. Selamat menikmati.Kalau sedikit klasik ceritanya maklumi saja~ i’m just pemula /?
Happy reading~ semoga kalian suka hahaha /? Jangan lupa kritik dan sarannya. Hati2 banyak typo :*


-        Terkadang dengan suatu kebiasaan yang tak lazim dan perhatian yang kecil, membuat seseorang jatuh cinta dengan mudah bahkan untuk seseorang yang sama sekali tidak pernah kamu pikirkan sebelumnya akan mencintaimu dan membalas perasaanmu -


Author pov’s

            Di siang yang dingin di musim semi. Di sebuah coffee shop yang cukup ramai dengan pengunjung, Jungshin seorang namja jangkung hanya duduk di pojokan coffee shop sembari terus mengetuk-ngetukan kan jari telunjuknya di atas meja. Diliriknya jam tangan yang ia gunakan.
Sudah nyaris satu setengah jam ia duduk sendirian dan tidak memesan apa-pun untuk dirinya. Perasaanya sangat cemas hari ini. Entah lah, otaknya mulai berfikir bagaimana ia akan mengatakan sesuatu. Yang ada di pikiranya ia takut membuat orang tersebut menjadi marah dan tidak ingin bertemu denganya.
“Selalu saja kalau bikin janji sukanya ngaret!” gerutu Jungshin. Ia terus memperhatikan ponselnya kalau kalau mukin ada pesan masuk atau telfon.
“Sunbaenim!” seru seseorang dan membuat Jungshin cukup kaget. Ia pun menoleh kearah belakang tubuhnya. Terlihat seorang gadis berambut sebahu berwarna honey blonde berjalan menuju kearah Jungshin. Tubuhnya yang nampak seperti gitar spanyol sangat cantik dan indah itu pun hanya di tutupi dengan sebuah matel tebal Seketika Jungshin mulai salah tingkah. Wajahnya mulai merah padam seperti kepiting rebus. Lalu gadis itu melepaskan mantel tebalnya itu terlihat ia hanya mengunakan celana jeans pendek dan kaus oblong yang di padukan dengan sepatu kets.
“Hello sunbaenim!” sapa gadis itu saat ia sudah duduk di hadapan Jungshin “Apa aku terlambat sangat lama? ah, mianhae sunbae, aku baru saja pulang latihan dengan member AOA nih.”
“Anniya” ujar Jungshin spontan “Aku baru datang lima menit yang lalu kok, Yuna” Jungshin pun berusaha menyembunyikan berapa lama waktu yang ia buang untuk menunggu gadis ini.
“Mianhae sunbaenim.” ujar gadis itu “Nanti aku traktri sunbae deh. Minum kopi sepuasnya untuk sunbae sebagai tanda permintaan maafkan aku, karena membuat sunbaenim menungguku. mau minum kopi apa? Iced Americano? Iya?”
Jungshin pun mengeleng cepat “Tak perlu repot-repot Yuna, aku bisa bayar sendiri. Masa seorang bassist band se-terkenal CNBLUE harus merepokan hoobaenim-nya?”
Yuna pun tersenyum “Aish, aku tidak merasa di repotkan kok sunbae sungguh hanya sebagai tanda permintaan maaf saja.”
--
Jungshin’s pov
            Seketika jantungku ingin berhenti berdetak saja saat ini. Astaga aku sedang melihat soerang malaikat dari khayangan tersenyum denganku hari ini. Aku tidak sedang bermimpi kan? Jika aku bermimpi, aku tak ingin terbangun dari mimpi indah ini.
Aku pun terus memandangi Yuna yang ada di hadapanku. Memandangi betapa cantiknya gadis ini. Rambutnya yang sewarna madu, kedua matanya yang berwarna cokelat, dan kulitnya yang bersih. Aku benar – benar merasa dia bukan manusia tapi dia seperti seorang malaikat.
“Sunbaenim!” seru Yuna sembari melambaikan tanganya di depan wajahku. Sontak aku terkejut dan menjadi salah tingkah.
“Oh... oh... oh.. iya Yuna wae?” tanyaku gelgapan “Kau ingin minum apa? ayo pesan saja.”
“Lah, kenapa sunbae bertanya aku mau minum apa?” Yuna menaikan alisnya “aku bukan seorang coffee lovers sepertimu atau Yonghwa sunbaenim. Dasar americano man! ugh! Sebenarnya aku ingin Hot Chocholate tapi mukin ini terkesan seperti anak-anak ya?”
Seketika aku tersenyum. Ya, Yuna selalu menyebutku akhir-akhir ini dengan sebutan Americano man, karena aku beberapa waktu belakangan ini lebih sering meminum Iced Americano. Bahkan julukan Americano man yang Yuna berikan dengan Yonghwa hyung juga diberikan denganku saat ini.
“Jadi kau ingin minum apa Seo Yuna?” tanyaku lagi “Iced cappuchino blend?, caramel ? atau-“
“Ah, baik aku seketika ingin minum hot cappuchino” potong Yuna “Disuasana dingin seperti ini aku lebih suka minum yang hangat. Sunbaenim, apa masih mau memesan apa? Iced americano? Aku sarankan si lebih baik minum yang hangat saja dari pada kedinginan nanti kau terkena flu lagi.”
Ya gadis ini. Selalu saja... mengkhawatirkanku dan inilah... ini lah yang membuatku semakin lama semakin mencintai gadis ini. Kelembutanya... senyumanya... perhatianya... ah, Seo Yuna kau benar-benar seorang malaikat
Aku pun memanggil pelayan dan memesan minuman yang kami berdua inginkan. Seketika setelah aku memesan lalu pelayan itu kembali pergi meninggalkan kami berdua, aku dan Yuna saling bertatapan dalam kebisuan dan tiba-tiba Yuna pun mengeluarkan tab-nya dan sibuk dengan tabnya
Sial, kenapa jadi dia sibuk sendiri -_- menyebalkan yeoja dimana-mana memang menyebalkan err. Kalau aku tidak mencintai yeoja ini sudah aku tinggalkan dia sendirinya.
Dan pelayan pun datang sembari membawakan kopi pesanan kami. Kali ini aku memesan Hot Mochachino dan meninggalkan Iced Americano kesukaanku itu. ah, entahlah kenapa aku tidak sama sekali merasakan dingin ya? Seharusnya aku memesan Iced Americano saja tadi.
Setelah pesan datang, Yuna pun mulai sibuk dengan tabnya. Seketika aku merasa kesal juga lama-lama dengannya. Semacam aku tidak dianggap -_- hello handsome bassist and maknae yang di gilai di Korea Selatan sudah berada di hadapanmu Seo Yuna!
“Yuna-ya!” seruku
“Ah, nde sunbaenim?” sahut Yuna “Waeyeo? Sunbae mau pulang?”
“Jangan abaikan aku!” erangku. Seketika dengan kesal aku pun bangkit dari tempat dudukku dan menghampiri Yuna, dan dengan kesal aku mengambil tabnya dari pangkuan gadis ini.
--
Yuna’s pov
             Sial! kenapa tiba-tiba Jungshin sunbae mengambil tabku seperti ini? Argghh kenapa semakin hari tingkah Jungshin sunbaenim semakin aneh. Entah lah, aku makin bingung dengan sikapnya akhir-akhir ini.
Bukan aku besak kepala, tapi dia memperlakukanku sangat istimewa semakin hari. Padahal seharusnya dia bisa memperlakukan Mina seperti ini namun kenapa harus aku? Bukan kah dia dan Mina sangat dekat?
Dan hari ini? Angin apa manusia ini mengajakku minum kopi bersama? Kenapa dia tidak mengajak Mina atau mukin teman satu grupnya?
“Sunbaenim...” ujarku kaget “Jangan ambil tabku!”
“Seo yuna.” sahut jungshin sunbae “Jangan abaikan aku!”
Aku terdiam. Dan saat ini jarak antara kami berdua tinggal beberapa jengkal lagi. Seketika jantungku berdetak cukup cepat. Eottoke.... jangan Yuna... jangan besar kepala. Ingat dia hanya sunbaenimmu jangan berharap lebih.
Dan Jungshin sunbae pun menjauh dariku. Kini ia kembali duduk di hadapanku. Lalu, sekarang giliran dia asik bermain dengan tabku. Ugh padahal tab itu hiburanku! Sunbae ini senang sekali menganggu waktuku bersama tab kesayanganku.
“Yuna.” ujar Jungshin sunbae. Lalu ia mengembalikan tabku. Terlihat ia membuat suatu tulisan. Tunggu aku tidak salah baca kan? Apa maksudnya ia menulis 1... 2... 3... 4? Seperti anak sekolah dasar yang sedang belajar berhitung saja!
“Apa maksud sunbaenim?” tanyaku nampak bingung. Aish Yuna berhentilah bersikap seprti orang linglung Yuna! Bagaimana Chanmi dia memanggilmu dengan sebutan orang linglung? Aish Seo Yuna...
Dan Jungshin sunbaenim pun kembali mengambil tabku. Lalu ia kembali menulis di aplikasi menggambar yang ada di tabku.
“Seo Yuna...” ujar Jungshin sunbae
Dan aku pun tersedak. Apa? he’s want to kiss me every minute, ever hour everyday? Heol! Aku bukan yeoja... yang sembarang kau tahu Lee Jungshin? Err akan ku adukan dengan manager eonnie!
“Sunbaenim!” erangku “Apa maksudnya ini?”
Seketika Jungshin sunbae pun kembali menghampiriku. Kini ia berlutut di hadapanku. Astaga.. seketika jatungku berdetak tak karuna.“Jangan panggil aku sunbaenim!” perintahnya “Aku nggak suka!”
Dasar manusia aneh! Masa aku harus memanggil namanya! Mau dipandang apa aku ini? Hoobaenim kurang ajar?
“Kenapa?” aku menatapnya tajam “Masa iya aku harus memanggil namamu? Seperti itu kau maunya? Lalu aku harus-“
Chu~
Seketika sebuah ciuman mendarat mulus di pipi kananku. Aish, ya tuhan... baru kali ini ada seorang namja yang berani mencium pipiku secara tiba-tiba begini. Mana ini tempat ramai lagi? Bagimana kalau ada paparazzi yang melihat? Tamatlah aku!
“Kau” ujarku “Kenapa sunbae... kenapa...”
Seketika Jungshin sunbae pun memelukku dengan erat. Terasa desah nafasnya di tengkuk leherku. Seketika aku benar-benar lemas. Ya tuhan... apa yang harus aku perbuat? Pasti... pasti Mina akan marah denganku... aish, mianhae... mianhae.. Mina.
“Seo Yuna... saranghae.... saranghae...” bisik Jungshin sunbae tepat di telingaku.
Astaga rasanya aku ingin berteriak saat ini juga. Aku nggak salah dengar kan? Ya memang aku mencintainya dan aku pikir ini gila dimana aku notabenya hanya seorang hoobaenimnya malah mencintai sunbaenim sendiri oke aku sudah tidak waras memang! Dan yang lebih gilanya lagi, aku sudah merebut Jungshin dari Mina eottoke.
“Lee Jungshin...” ujarku
Dan jungshin sunbaenim pun melepaskan pelukanya denganku. Lalu ia mengegam tanganku dengan erat. Dia tidak perduli dengan suasana coffeeshop hari ini. Mau ramai atau sepi dia seperti sudah kebal dengan blitz kamera dari paparazzi atau penggemarnya. Dasar aneh!
--
Author’s pov
            “Mianhae Yuna.” ujar Jungshin “aku tahu ini... ini terkesan tidak masuk diakal denganmu. Tapi ini lah kenyataannya Yuna... aku mencintaimu... sangat amat-.”
“Oppa.” ujar Yuna spontan
“Ne, Yuna?” Jungshin pun menatap Yuna dengan lembut. Ia terus mengengam kedua tangan Yuna. Rambut hitam milik Jungshin pun seketika terliat lebih lepek dari biasanya. Yuna hanya mengigit bibir bawahnya untuk menghilangkan rasa gugupnya. Mereka saling bertatapan dalam kebisuan sangat lama.
I love you too..” jawab Yuna
Mendengar kalimat yang di ucapkan yuna tadi, jungshin merasa ia seperti sedang bermimpi. Dan senyum kini mengembang dari bibir Jungshin ekspersi kebahagiaan terpancar dari wajahnya.
“Seo Yuna..” ujar Jungshin
“Nde oppa?”
Dan jungshin pun merenguh wajah Yuna dengan kedua tanganya. Kini wajah mereka semakin dekat tinggal sejengkal lagi. Desah nafas yuna terasa sekali di wajah Jungshin begitu juga sebaliknya
I’ll love you till the end of time.” ujar Jungshin. Dan dengan spontan Jungshin mencium hidung Yuna. Seketika wajah Yuna makin terlihat merah padam.
I love you more and more Lee Jungshin! I dont know why i love you! Now give me what the reason why i love you, Lee Jungshin.” Balas Yuna. Dan senyum pun terukir manis dari bibir merah Yuna.
I know it, Yuna” jawab Jungshin. “Jawabnya hanya didirimu Yuna”
 Seketika mereka pun saling berpandangan satu sama lain. Dan sebuah kecupan mendarat di hidung Yuna. Seketika wajah yuna pun kembali merah padam
“Yah oppa!” erang Yuna
Dan jungshin pun tersenyum meledek dengan Yuna “Wajahmu sangat merah seperti kepiting rebus Seo Yuna.”
Dan Yuna pun menjauhkan dirinya dari Jungshin. Jungshin pun kembali ketempat duduknya, ia pun memandangi wajah Yuna cukup lama. Yuna hanya membuang pandangnya dari Jungshin sembari mengigit bibir bawahnya.
--
Jungshin’s pov
            Aku merasa aku sedang bermimpi saat ini. She’s have feel same with me? Ah benar juga si kata Yonghwa hyung cobalah berusaha jujur daripada terlambat. Seketika otakku mulai berfikir. Rasanya...aku ingin mencium bibirnya saat ini namun...
“Sunbaenim?” panggil Yuna tiba-tiba dan membuyarkan lamunanku
“Oppa” ralatku “Waeyeo Yuna?”
“Anniya” Yuna menggeleng
Aku pun melirik jam tanganku. Jam sembilan. Baiklah, saatnya pulang. Aku harus cepat-cepat pulang ke dorm daripada kena omel lagi -_-
“Ayo kita pulang!” perintahku “Habiskan kopimu, Yuna.”
Seketika Yuna pun mengambil cangkir kopi miliknya lalu ia meminum kopi miliknya dengan cepat lalu ia tersenyum denganku.
“Sudah! Ayo kita pulang” lalu Yuna bangkit dari tempat duduknya sembari membawa tas jinjing dan tabnya.
“Baiklah” ujarku. “Ayo kita pulang tapi, sebelum kita pulang kau harus menemaniku kesuatu tempat arraso?” aku pun mengengam tangan Yuna dengan erat lalu kami meninggalkan CoffeShop dengan bahagia. Lalu aku pun mengajak Yuna berjalan menelurus pertokoan yang nampak mulai sepi. Ya sekarang memang belum larut si, tapi sudah sepi saja
Lalu kami berdua berhenti di sebuah taman bermain. Ah, aku salah membawa Yuna ketempat ini. Seketika Yuna pun melepaskan genggaman tanganya. Lalu ia berlari kearah ayunan ditaman ini.
“Taman ini sudah sepi ya? Ah, aku merindukan saat-saat aku bebas bisa bermain.”
Aku pun mengambil posis duduk di ayunan kosong yang berada di samping Yuna. Lalu Yuna pun mulai bermain dengan ayunanya. Terlihat sekali rona bahagia dari wajahnya. Dan, memang benar terkadang kebiasaan yang tak lazim seseorang membuatnya nampak semakin menarik.
“Kau seperti anak kecil” ledekku. Lalu Yuna pun menghentikan permainanya. Dan kin ia menatapku tajam
“Kalau aku seperti anak kecil, kenapa kau tadi mengatakan aku mencintaimu Seo Yuna.” cibir Yuna “Dasar manusia aneh.”
“Aku aneh?”
“Ya!” tuas Yuna “Kau itu aneh! Kenapa kau mengatakan kau mencintaiku padahal kita saja tidak terlalu dekat, kenapa bukan Mina kenapa?-“
“Kau cemburu dengan Mina?” potongku “Ah, kau ini”
“Tidak” jawab Yuna cepat “Siapa yang cemburu?”
“Mina dekat dengaku.” aku pun bangkit dari tempat dudukku “Karena dia minta di ajari bagimana cara bermain bass yang hebat, dan asal kau tahu.. diam-diam Mina sedang mencari informasi tentang Jonghyun hyung.”
Eoh bodoh kenapa aku mengatakan masalah Mina dan Jonghyun hyung? Habislah aku dengan Mina besok ya tuhan ampuni aku.
“Jonghyun sunbaenim?” tanya yuna bingung “Memangnya kenapa? Apa Mina naksir sama dia? Wow.”
“Entahlah.” aku mengakat bahuku “Mukin.”
Lalu aku pun berlutut di hadapan Yuna saat ini sembari mengenggam tanganya dengan erat dan aku pun menatap kedua mata cokelatnya yang indah itu sangat lama.
“Jadi, kau tidak akan berfikiran aneh-aneh lagikan?” tanyaku “Aku hanya mencintaimu Seo Yuna sungguh.”
“Tapi-“
“walau kita tidak terlalu sering bertemu.” potongku “Walau kau tidak terlalu dekat denganku seperti Mina tapi ini lah, terkadang sesuatu yang tak disangka bisa datang begitu saja.”
“Aku pikir.” tambah Yuna “Kau dan Mina sedang kencan sunb-“
“Panggil aku oppa sekarang.” perintahku “Kau harus memanggilku oppa Seo Yuna arraso?”
Yuna pun tersenyum “Sepertinya akan menjadi sebuah kebiasaan yang sulit.”
“Kau harus berusaha” tuasku “Arraso?”
“Ne oppa aku akan-“
Dan secepat kilat aku mengecup bibir Yuna untuk menghentikan pembembicaraanya. Oh astaga pabo-_- apa yang aku perbuat.
“Mianhae.” ujarku tiba-tiba. Dan Yuna terlihat kaget. Seketika ia menatapku dengan tajam dan sedetik kemudian ia tersenyum.
“Kau ini membuatku kaget saja.” ujar Yuna dan Yuna pun mendekatkan wajahnya denganku sedetik kemudian. Ia pun membalas ciumanku cukup lama. aish, aku benar-benar kehabisan nafas rasanya. Dan ia pun melepaskan ciumanya dan terseyum puas denganku
“Seo Yuna.” ujarku
“Kita impas.” ujar Yuna gembira
Lalu aku pun memeluk Yuna dengan erat “Aku mencintaimu, Seo yuna.”
“Nado.... i love you too.. Americano man.” balas Yuna
“Jadi?” tanyaku “Americano man-mu siapa aku atau-“
“Yah!” gerutu Yuna “Tentu saja kau Lee Jungshin. I love you Americano Man!

--

Selasa, 03 Juni 2014

I Can't Stop Loving You (ff)


Autor: Yunye 
Rating: PG-15
Genre: Romance, happy ending, AU
Length: Ficlet

Main cast:
-         Lee Jonghyun (CNBLUE)
-        Park Choa (AOA)

Disclaimer: sesuai sama lirik lagu CNBLUE yang judulnya can’t stop /? Ada kan lirik ‘ I can’t stop loving you’ /? Mokonya ff ini terinspirasa dengan lagu can’t stop di mana Lee Jonghyun terlihat tapan rupawan di mv ini /g. para cast adalah milik tuhan, orang tua, penggemar dan FNC en dan story murin dari diri saya yang cantik mirip enjel /g

Note: ini ff sudah saya modif /? Aslinya si main castnya yeojanya bukan Park Choa /? Kalo gak percaya check aja di wp ff cnblue indo. Oh iya ff ini sudah perah saya ikut lombakan di wp ff cnblue indo tp sayang gak menang /mewek/ yaudahlah ya~ namanya juga pemula hiks oke deh selamat baca~ mwah no copas no plagiat mikir deh kalian klo mau ngeplagiatin ff -_- gak kasihan sama author? hiks

-Choa pov-                           
Perasaan jenuh sedang menghampiriku malam ini. Kuputuskan setelah aku mengakhiri jam mata kuliahku yang terakhir malam ini aku pergi ke sebuah kafe untuk melepas penatku.
Aku pergi sendiri. Di tengah malam yang cukup dingin ini. Lalu aku berhenti di depan sebuah kafe. Well, kafe ini tak jauh dari kampusku mukin hanya berjarang sekitar 500 meter dari kampusku dan beberapa temanku sering kesini. Jujur saja selama aku kuliah nyaris tiga tahun aku tak pernah mengujungi kafe ini.
Dan ku putuskan untuk masuk. Seorang pelayan tampan menyambutku dengan senyuman ramahnya, lalu ia mengatarkanku ke tempat duduk, lalu ia bertanya denganku aku ingin memasan apa aku hanya menjawab aku ingin apa saja yang menurutnya enak. Dan pelayan itu sedikit bingung.
Tak lama kemudian pelayan itu pergi meninggalkanku sendirian. Kuputusakn untuk mengeluarkan Tabku mengisi waktu kosongku.
Suasana kafe ini cukup ramai. Aku sedikit bingung apa selalu seperti ini ya susana kafe ini setiap jam pulang kampus?
“Eh, hari ini Mr. Lee mau tampil kan?” Tanya seseorang yang lewat di hadapanku. Aku sedikit tertarik menguping pembicaraan para segelombolan gadis yang lewat di hadapanku itu
“Mr. Lee?” Gadis berambut cokelat tua sedikit kebingungan mendengar oceah temanya
“Itu loh Lee Jonghyun!” Sahut si rambut hitam “Gitaris tampan berlesung pipit itu itu. hari ini kan hari jumat pasti dia akan manggung di kafe ini.”
“Oh, Lee Jonghyun?” Tanya si rambut cokelat tua “Oh, iya pantas saja kafe ini ramai iya lah siapa si yang gak nolak lihat seorang gitaris tampan dengan suaranya yang merdu ini. Aku rasa tak ada satu pun orang apa lagi para gadis-gadis yang mau melewatkan hal ini?”
Lalu segrombolan gadis ini pergi dari hadapanku. Aku pun menerka-neraka. Lee Jonghyun? Sepertinya aku mengenal nama itu tapi dimana?
Dan pelayan yang tadi itu pun datang lagi di hadapanku
“Nona, ini pesanannya” Kata pelayan itu. pelayan itu membawakanku segelas iced americano. Memang di kafe ini ada kopi juga?
“Terima kasih.” jawabku. Lalu aku memberikan uang tip untuk pelayan itu dan pelayan itu pun pergi meninggakanku. Aku pun langsung mengenak Iced Americano yang ada di hadapanku saat ini.
“Test.. test...” Seru seseorang dengan microfon “Selamat malam semuanya saya Lee Jonghyun, malam ini saya akan menghibur kalian selama satu jam kedepan.”
Dan aku pun mendongak kearah suara itu. tunggu... pria yang sedang berada dia atas panggung itu... astaga benarakah dia Lee Jonghyun yang di sebutkan para gadis-gadis tadi? Lee Jonghyun.... ia tak pernah berubah sedikitpun ya. Rambutnya masih tetap berwarna hitam dan berantakan, kulitnya masih sama seperti dulu.. putih bersih dan senyumanya ditambah dengan lesung pipit itu...
Aku cukup terkejut melihan pria itu. aku rasa aku mimpi. Kalau ini mimpi aku tak mau bangun dari mimpiku. Takkan pernah mau. Aku sudah merasakan satu kali kehilangan pria itu... aku...
Lalu aku menikmati pertunjukan yang diberikan Lee jonghyun malam ini. Permain gitarnya sangat baik dan profesional aku cukup tercengang melihat betapa mahirnya dia bermain gitar itu. dan, suaranya yang indah nan merdu itu... benar-benar membuahku seperti berada didalam mimpi saja.
Dan ia mengakhir permainan gitarnya
“Terimakasih atas malam ini yang sudah menoton pertunjukan saya. Saya sangat merasa senang atas antusinisme kalian dengan saya. Saya Lee Jonghyun, ah satu jam memang cepatnya. Well, sampai jumpa semuanya di hari jumat berikutnya”
Lalu pria itu pun pergi turun dari panggung.
-Author pov-
            Lalu Choa pun bangkit dari tempat duduknya. Ia menyisakan seperempat Iced Americanonya yang belum ia minum tadi. Lalu ia memasukan Tabnya kedalama tasnya. Diambilah tas dan berapa bukunya lalu ia memutuskan untuk pergi meninggalkan kafe ini
            Dan saat ia keluar dari kafe
            “Brukkk....”
            “Astaga.” Ujar Choa “Tuan, maafkan aku maaf aku tak melihat.” Buku-buku yang Choa bawa pun jatuh berantakan di lantai.
            “Choa?” seru seseorang. Lalu Choa yang sedang membersihkan buku-bukunya yang berantakan itu pun mendongak
            Dan sesosok Jonghyun pun berdiri di hadapannya. Ia memamerkan senyuman dan lesung pipinya itu. lalu Jonghyun pun berjongkok dan membantu Choa membereskan buku-bukunya itu.
            “Kau sedang apa disini?” Tanya Jonghyun lagi
            “Mele....pas penatku... karena jadwal kuliahku.” Jawab Choa gelagapan “Kau sendiri?”
            “Aku berkerja.” Jawab Jonghyun. Lalu Jonghyun pun membawakan buku-buku Choa itu dan menyerahkannya kepada Choa.
            “Terimakasih.” Jawab Choa
            “Sama-sama.” Balas Jonghyun. Dan Jonghyun pun pergi meninggalkan Choa
            Choa nampak terpanah dengan keberadan Jonghyun. Seketika ia merasakan detak jantungnya makin cepat. Dan aliaran darahnya makin cepat.
            Ya, perasaan ini masih sama seperti tiga tahun yang lalu... Lee Jonghyun.. jantungku ini masih sering berdetak tak beraturan jika aku melihat senyumanmu itu Lee Jonghyun... batin Choa
-Jonghyun pov-
            Hari makin hari terus berlalu, minggu demi minggu pun terus berlalu.. setelah hari pertemuanku dengan Choa waktu itu... setiap hari dan setiap detik aku tak bisa berhenti memikirkan Choa.
Ya nyaris tiga tahun aku tak pernah bertemu gadis mungil berambut blonde itu lagi. Setelah lulus SMA nyaris tiga tahun lalu aku tak pernah bisa bertemu dengan Choa. Karena Choa pindah dari Busan ke Seoul. Dan aku pun, aku pun mencoba menyusulnya kesini. Aku pikir ini gila... tapi... nyatanya... aku pun bertemu dengannya Park Choa
            Aku merindukanya... aku tak pernah bisa berhenti mencintainya...
            “Aish” desisku pada diri sendiri “sudah lah Lee jonghyun sudah. Ini mustahil Lee Jonghyun!”
            Hari ini hari jumat, well hari ini aku pun harus kembali berkerja menghibur di kafe tempat biasa aku mencari sesuap nasi itu.
            Udara musim semi yang cukup dingin dan menusuk tulangku. Aku berjalan kaki menuju kafe tempat ku berkerja sembari menggunakan matel tebal untuk menguragi udara dingin. Di tanganku tak lupa aku membawa sebuah box yang berisi gitar yang biasa aku gunakan
            Susana kafe malam ini cukup ramai ya seperti biasa. Bahkan kata pemilik kafe ini pengunjung menikat karenaku. Aku sedikit bangga dengan diriku yang berhasil membawa banyak pengunjung untuk kafe ini.
            Dan aku pun langsung naik keatas pangunggu dan duduk sembari membuka box yang berisi gitar klasikku. Ku rapikan posisi microfon dan mencoba berbicara
            “Test.. test selamat malam pengunjung setia” sapaku “selama satu jam kedepan.. saya Lee jonghyun akan mengibur kalian semua.” Dan aku pun memainkan gitarku. Kedua mataku melirik kearah kursi yang biasa Choa duduki. Namun, ia nampaknya belum datang. Apa dia tidak datang? Aku berusaha menghapus pikiran tetang Choa namun mustahil.
            Dan gadis itu pun... datang juga... seketika jantungku berdetak tak beraturan. Lalu Choa melambaikan tanganya denganku dan ia duduk di kursi kosong itu.
            Apa aku harus mengatakannya... aku tak ingin mengulang kebodohanku tiga tahun yang lalu.. ya aku harus memanfaatkan semua kesemptan ini Lee Jonghyun jangan pernah kau menyia-nyikan kesempatan kedua ini.
-Author pov-
            Dan Jonghyun pun menghentikan permainan gitar. “Malam ini, saya akan mempersembakan sebuah lagu... lagu ini saya nyanyikan sangat special untuk seorang gadis... gadis itu... gadis yang sangat istimewah untuk saya...”
            Lalu Jonghyun pun mulai memaikan gitarnya
‘Harue han beonman geudaen tteoollyeojwoyo miss you
Harue han beonman naneun ijeobolgeyo
Geugeotdo andwaeyo geugeotdo andwaeyo
Geugeotdo andoemyeon geureom nan eotteokhanayo
Geudae han madie naneun useoyo

Geoulcheoreom maeil sarayo
Naui haruneun geudaeui geosijyo

Can’t stop me now can’t stop me now
Geudaereul darmeun bom hyanggiga ajik chaneyo
Can’t stop me now can’t stop me now
Naneun meomchul su eomneyo i can’t stop loving you

Heutnallineun barame geudae tteoolla
Nun busin haessare geudae tteoolla
Naneun meomchul su eomneyo i can’t stop loving you

Han georeum dwiramyeon heorakhal su innayo miss you
Han georeum dwieseo naneun gidarilgeyo
Geugeotdo andwaeyo geugeotdo andwaeyo
Geugeotdo andoemyeon geureom nan eotteokhanayo
Geudae han madie naneun useoyo

Geoulcheoreom maeil sarayo
Naui haruneun geudaeui geosijyo

Can’t stop me now can’t stop me now.
Geudaereul darmeun bom hyanggiga ajik chaneyo
Can’t stop me now can’t stop me now.
Naneun meomchul su eomneyo i can’t stop loving you

Michin deut michil deut haneobsi bureuda bomyeon
Han beoneun dorabolkkayo

Can’t stop me now can’t stop me now
Geudaeman baraboneun nae mam ajik siryeoyo
Can’t stop me now can’t stop me now
Naneun meomchul su eomneyo i can’t stop loving you

Heutnallineun barame geudae tteoolla
Nunbusin haessare geudae tteoolla
Naneun meomchul su eomneyo i can’t stop loving you’
            Dan ia menghetikan permainan gitarnya. Sorak tepuk tangan dari selulu pengunjung kafe ini pun bergema
            “Test.”  Jonghyun pun berbicara di depan microfon “Park Choa.. i’ll tell you something...”
            Mendengar namanya di sebut oleh Jonghyu, Choa pun terkejut. Semua pengunjung pun mencari-cari orang yang dimaksud Jonghyun itu. Choa hanya menutupi wajahnya dengan sebuah majalah yang ia bawa.
            “Park Choa, mukin... tiga tahun yang lalu, aku masih terlalu payah... tiga tahun yang lalu aku masih tidak mempunyai nyali... tidak punya nyali ituk mengatakan apa isi hatiku padamu Choa... dan dengan bodohnya aku membiarkanmu pergi... aku tak bisa mencengahmu pergi. Aku bodoh Choa aku bodoh.”
            “Aku tak tahu, apa ini rencana tuhan atau hanya sebuah kebetulan... dan aku pun saat ini bertemu denganmu lagi Choa... dan... aku pun tak bisa mengelak lagi... aku memang tak bisa melupakanmu sedetikpun.”
            “Park Choa.. aku tak ingin kehilanganmu untuk yang kedua kalinya di hidupku. Aku tak ingin menyia-nyikan semuanya lagi saat ini...”
            Lalu Jonghyun terdiam sejenak. Ia menghela nafas.
            “Park Choa... i love you... i can’t stop loving you... how long we’re did’t meet... how long i can’t see your smile.. this never changes... i love you so much Park Choa... aku nggak bisa membohongi diriku lagi... Choa...”
            Mendengar perkataan jonghyun tadi Choa pun terhenyak. Rasanya ia ingin menangis saat ini juga sembari memeluk boneka seperti anak usia 5 tahun. Perasaannya sangat tak karuan. Antara ia senang, terharu dan semua perasan itu menjadi satu. Ya dia mendengarkan apa yang ia ingin dengarkan... tiga tahun yang lalu..
            “Choa..” ujar jonghyun “Mukin kau saat ini terkejut mendengarkan semuanya.. tapi, ini lah hal yang selalu aku sembunyikan darimu aku tak bisa mengelak lagi tentang semuanya ini. Ya aku sangat mencintaimu Choa.. sangat dan amat mencintamu... i can’t stop loving you Park Choa.”
            “Park Choa, kau mendengarku?” Tanya Jonghyun “Jawablah Choaya jawablah. Katakan kau mendengaranku saat ini Choa.”
            Lalu Choa bangkit dari tempat duduknya. “Aku dengar... aku mendengarkanya Lee Jonghyun.” Balas Choa.
            Jonghyun pun tersenyum penuh harap. Dan Choa pun berlari naik keatas pangunggu. Seluluh pengunjung kafe ini pun layangkan tatapan bingung dengan Choa.
            Lalu Choa dan Jonghyun pun saling bertatapan lama di atas pangunggu. Butuh waktu sepersekian detik untuk Choa menyadari semuanya. Semua yang di ucapkan Jonghyun tadi itu bukan mimpi
            “Lee jonghyun.” Ujar Choa
            “Nde?” Jawab Jonghyun. Lalu Choa mengengam tangan Jonghyun sembari tersenyum.
            “And me too..” Ujar Choa “I can’t stop loving you Mr. Lee.”
            Lalu Jonghyun pun memeluk Choa dengan spontan. Sorak tepuk tangan dari pengujung pun mengemah.
            “Park Choa..” Bisik Jonghyun di telinga Choa “I love you so much... i can’t stop loving you... can’t... can’t. don’t leave me again Choa...  i can’t life without you for second time again.”
            “Never.” Jawab Choa “And... me too... i can’t life without you Lee Jonghyun... i love you... i love you so much Lee Jonghyun.”
            Dan mereka pun berpelukan bahagia.
-end-

Selasa, 20 Mei 2014

Love In Marriege [chapter 2] (ff)

Author : Park Hajung
Cast :
-      Kim Chanmi (AOA)
-      Choi Minhwan/Minari (FT Island)
-      Lee Donghae (Super Junior)
Other Cast :
-      Kim Jaehyun (N.Flying)
-      Seo Youkyung (AOA)
-      Seo Yuna (AOA)
-      Song Seunghyun/Songsari (FT Island)
-      Kim Seolhyun (AOA)
Rate : PG – 15
Genre : Romance, Friendship, Angst,
Length : Chapter
-Part 2-
 “Selamat pagi semua” sapa seseorang itu
“Selamat pagiii~~” jawab para mahasiswa serentak
“Perkenalkan. Nama saya Lee Donghae tapi panggil saja saya Hae songsaenim”
“Annyeong Hae songsaenim~” sapa para mahasiswi dengan serentak dengan terdengar mendayu dayu.
“Annyeong” balas Donghae sambil melambaikan tangan kecil pada orang orang yang menyapanya. Kemudian matanya kembali menatap tempat dimana Chanmi duduk. Sadar bahwa dirinya ditatap, ia hanya memasang wajahnya penuh kebingungan dan sedikit memiringkan kepalanya. Senyuman dari wajah Donghae semakin terpancar saat melihat wajah Chanmi.
“Baiklah” akhirnya Donghae melepaskan tatapan dari Chanmi dan beranjak mengambil spidol yang ada pada papan tulis.“Kita mulai saja materi kita” ia pun menulis judul materi yang akan dibahas. Dan mulaikan kegiatan belajar mengajar di kelas tersebut.
                                                            ***
Waktu istirahat pun tiba. Chanmi keluar dari kelas untuk mencari makanan yang dapat menggugah seleranya di kantin.
“Annyeong” tiba tiba saja ada gadis yang sudah ada di hadapan Chanmi. “Ah, annyeong” balas Chanmi dengan ramah.
“Hm, aku dengar kita satu ekskul ya? Maksudku ekskul dance?” tanya gadis itu
“Ah, benarkah? Hm bagaimana kau bisa tahu?”
“Aku kan melihatmu seminggu yang lalu” ucapnya sambil tersenyum. Kemudian gadis itu member uluran tangan pada Chanmi. “Kim Seolhyun imnida!”
Chanmi pun menerima uluran tangan dari gadis yang bernama Seolhyun. “Kim Chanmi imnida. Oh iya ngomong ngomong, mau ikut aku ke kantin”
“yah maaf ya, Chan. Kali ini aku tak bisa karena aku ada sedikit urusan yang harus ku urus”
“Oh begitu…baiklah. Aku pergi ke kantin ya, Seolhyun-ssi”
“Ah tak perlu panggil aku secara normal, Chanmi-ya. Kita kan sudah teman. Baiklah aku permisi dulu Chanmi-ya”
“kkkk~ ne Seolhyun-ah”
Keduanya pun terpisah di tempat tersebut. Lalu Chanmi kembali mengambil langkah di koridor itu menuju kantin.
“Hey you!” terdengar suara seorang lelaki yang berteriak memanggil seseorang. Meskipun tak yakin bahwa panggilan itu untuk dirinya, Chanmi tetap menoleh ke belakang untuk melihat siapa yang berteriak.
“Hai~” sapa lelaki yang berteriak tadi.
“Hae Songsaenim? Anda memanggil saya?” tanya Chanmi dengan wajah bingungnya sambil menunjuk diri sendiri.
“Iya, kau. Siapa namamu?” Donghae pun berjalan menghampiri Chanmi. “
Kim Chanmi imnida” ucap Chanmi sopan sambil membungkuk hormat pada Dosennya itu.
Oh iya aku ada hadiah kecil yang ingin kubagikan pada orang orang disini. Termasuk kau, Chanmi-ssi”
Ucapnya sambil mengambil sesuatu yang ada pada plastik sedari tadi dibawanya. Dikeluarkannya sebuah biskuit coklat dari plastik tersebut. “Ini, biskuit coklat buatan ibuku. Hari ini ibuku sedang membuat banyak. Jadi tak ada salahnya bila kubagikan kepada orang orang yang ada disini” Donghae pun menyodorkan biskuit coklat tersebut pada Chanmi.
“Wah, ibumu hebat sekali ya, songsaenim. Dapat membuat coklat sebanyak ini” ujar Chanmi sambil melihat kantong plastik yang dibawa Donghae yang diyakini berisi banyak biskuit coklat. Diterimanya biskuit coklat itu dari Donghae
“Hahaha ini tak seberapa kok” jawab Donghae cengengesan
“Tapi beruntung sekali ya punya ibu yang dapat membuat coklat sebanyak itu.”
“Ah, ternyata kau menyukai coklat ya?”
“Iya aku menyukainya” seru Chanmi sambil tersenyum. Melihat senyuman itu membuat Donghae tersenyum juga.
“Baiklah, semoga kau suka. Yasudahlah. Aku ingin membagikan pada yang lain,ya? Sampai jumpa, Chanmi” Donghae pun melangkah perlahan meninggalkan Chanmi ditempat.
“Ah iya, terima kasih ya Hae songsaenim” ujar Chanmi dengan riangnya. Sementara Chanmi membuka bungkus plastik bening pada biskuit coklat tersebut dan mulai memakannya.Baru saja mulutnya terbuka untuk siap menerima biskuit coklat tersebut, tiba tiba ada seseorang yang menyenggolnya membuat Chanmi terkaget hingga biskuit coklat dari tangan Chanmi terlepas dan jatuh. Dan kini hancurlah sudah biskuit coklat itu di lantai.
“Ah, maaf aku tak sengaja menabrakmu” ucap seseorang itu. Chanmi pun langsung memberikan tatapan death glare pada orang yang tadi menabraknya. Amarah Chanmi semakin naik saat mengetahui orang yang menabrak dirinya.
“Ya! Oppa!! Kau ini gimana sih?! Apa kau tidak melihat saat berjalan? Huh!” gerutu Chanmi. Jaehyun pun terlihat baru sadar setelah tahu siapa yang ia tabrak itu.
“Eh, ternyata kamu, Chanmi. Hahaha” ucapnya sambil memamerkan cengirannya kemudian ia tertawa cukup keras.
“Huh, kau ini! Bisakah kau tidak membuatku merasa kesal? Sebegitu bencinya kah kau padaku karena aku telah mendahuluimu, hm?” tanya Chanmi
“Hahaha, jangan terlalu serius begitu dong, Chan”
“Habisnya…oppa selalu membuatku kesal. Dasar derpy Jaehyun oppa!” Chanmi menghentakkan kakinya kemudian pergi meninggalkan kakaknya itu dengan langkah berdebum – debum.
“Ya! Chanmi-ya!” panggil Jaehyun.
Chanmi menoleh ke belakang. “Aku tahu kau saat ini sedang takut. Tapi tenang saja, kau akan terlindungi”
“Eoh?” Chanmi mengerutkan dahinya saat mendengar apa yang dikatakan kakaknya itu. Kemudian Jaehyun membalikkan badannya dan meninggalkan Chanmi yang masih bingung dengan apa yang diucapkannya. Chanmi terus memandangi kakaknya dengan rasa kebingungannnya sampai sosok kakaknya itu menghilang dari penglihatannya.
Sementara itu, Jaehyun berjalan melewati koridor. “Omona~, suka sekali anak itu marah marah. Hahaha” gumamnya.
“Mau sampai kapan kau mengusili adikmu itu, Jae?” tiba – tba seorang perempuan muncul di hadapan Jaehyun.
 “Ah, Youkyung noona, membuatku kaget saja ehehe” ujarnya sambil menampilkan cengirannya.
Youkyung tersenyum pada Jaehyun dan menggeleng gelengkan kepalanya kecil “Kau ini selalu saja membuat adikmu kesal”
“Ya…namanya juga seorang kakak. Ya memang seperti itulah cara kakak menyayangi adiknya. Huehehe”
“Aih! Dasar kau ini lucu sekali, Jaehyun-ah” ujar Youkyung sambil mencubit pipi Jaehyun dengan gemasnya kemudian ia pergi melangkah meninggalkan Jaehyun yang tercengang saat pipinya dicubit oleh gadis itu. Selama beberapa detik kemudian, Jaehyun menampar pipinya sendiri.
“Aigo, ini bukan mimpi! Dia benar benar mencubit pipiku tadi!” serunya dengan girangnya. Ia pun membalikkan badannya dan melihat sosok Youkyung yang masih berjalan lurus kesana.
“Ah~ Youkyung noona, joahae~” ucapnya mendesah bahagia.
                                                         ***
“Chanmi-ya~” panggil seseorang dari kejauhan. Chanmi yang sedang berjalan menuju gerbang sekolah pun langsung menengok kebelakang. Terlihat seorang gadis sedang berlari lari kecil menuju tempat dimana Chanmi berdiri.
 “Ah, Yuna unnie! Annyeong~” sapa Chanmi dengan ramahnya kenapa orang yang dipanggil Yuna itu. Yuna menghentikan langkahnya begitu ia sampai di hadapan Chanmi.
Ia membungkukkan badannya dan menopong tubuhnya dengan memegangi kedua lututnya. Kemudian terdengar nafasnya yang ngos ngosan.
 “Unnie ternyata kuliah disini juga ya?” tanya Chanmi kegirangan.
Yuna mulai mengatur nafasnya agar dapat bernafas dengan normal kemudian mulai menegakkan badannya dan melihat pada Chanmi. “Ah iya, kau baru tahu?”
“Iya, aku saja baru melihatmu disini, unn”
“Hahaha iya sih soalnya aku tidak ikut mengurusi datangnya mahasiswa baru. Jadinya baru tahu deh kalau kamu mahasiswa disini. Duh adikku sekarang menjadi mahasiswa ya? Kkkk~” kemudian Yuna mencubit pipi Chanmi dengan gemasnya.
 Yuna memang menganggap Chanmi seperti adiknya sendiri. Begitu juga dengan Chanmi, menganggap Yuna sebagai kakak perempuannya sendiri. Mereka berdua memang sudah akrab sejak SMA. Yuna dan Youkyung adalah senior yang dekat dengan Chanmi. Hanya saja Chanmi merasa menemukan sosok kakak perempuan pada diri Yuna. Tak jarang mereka selalu menceritakan masalah mereka masing masing. Pada saat Chanmi sudah amnesia pun Yuna tetap membantu Chanmi dengan memberikan foto foto masa SMA mereka. Maka dari itu, Chanmi bisa mengenali Youkyung tadi pagi karena Yuna lah yang membantu dirinya untuk memberikan memori pada otak Chanmi yang hilang. Hanya saja ada beberapa memori yang tidak ingin Yuna beritahu padanya karena takut kondisi gadis itu akan jatuh.
“Duh aku jadi malu” ucap Chanmi sambil tersipu sipu dengan tangannya menutupi mulutnya dan terdengar tawa kecilnya.
“Ceritakan dong padaku bagaimana hari pertama tadi” seru Yuna penuh antusias.
“kkkk~ baiklah. Jadi, hari ini bisa dibilang menyenangkan tapi juga dibilang menyebalkan. Menyebalkannya ada Jaehyun oppa yang selalu membuatku merasa kesal, huh” gerutu Chanmi
“hahaha. Namanya juga seorang kakak. Apalagi laki laki. Banyak kok yang seperti dirimu,Chan. Lalu lalu, apa yang menyenangkan bagimu?”
“Menyenangkannya ya…aku mendapat teman baru yang ternyata satu marga denganku, namanya Seolhyun. Anaknya terlihat cantik dan manis. Yang paling lucu, semua perempuan di kelas mengagumi Dosen mata pelajaran Bahasa Inggris. Memang sih beliau terlihat masih muda dan memiliki senyuman yang manis”
“Masih muda? Sepertinya aku belum pernah lihat Dosen seperti itu. Mungkin beliau Dosen baru”
“Yuna-ya!!” terdengar dari jauh suara seseorang yang memanggil salah satu di antara kedua gadis tersebut. Sontak keduanya langsung menoleh mencari sumber suara tersebut.
“Seo Yuna! Aku mencarimu!” orang yang memanggil Yuna itu semakin dekat dan semakin jelas bentuk wajahnya.
 “Ya!” akhirnya orang itu sampai pada hadapan Yuna dan Chanmi. Nafasnya terpengal pengal karena tadi ia berlari lari. “Ah kau ini, kemana saja?”
“Seharusnya aku yang menanyakan hal itu, bodoh!” cibir Yuna Kau tiba tiba meninggalkanku di perpustakan sampai waktu pulang sudah tiba. Yasudah, aku tinggal pulang saja”
“Aish! Kau ini. Tadi aku dipanggil Han songsaenim. Tahu sendiri bagaimana perlakuan beliau padaku. Hahaha dan aku dikenalkan pada dosen baru yang terlihat muda. Sepertinya mulai besok mata pelajaran Bahasa Inggris di kelas kita akan diganti olehnya.” Jawab Seunghyun
“Ah jinjja?”
“Hmm unnie” akhirnya Chanmi mulai angkat bicara. “Orang ini siapa?”
“Ah ini. Duh aku hampir lupa mengenalkannya padamu. Kenalkan ini Song Seunghyun. Seunghyun, kenalkan ini adikku, Chanmi.”
Orang yang bernama Seunghyun itu member uluran tangan pada Chanmi yang kemudian diterima olehnya.
Oh jadi gadis ini ya? Hahaha.. jadi gadis ini yang membuat seorang Choi Minhwan bisa bersikap gila  batin Seunghyun
“Kim Chanmi imnida” sapanya dengan ramah.
“Song Seunghyun imnida. Jadi kau ini adiknya yang selalu diceritakan oleh Yuna ya? Hahaha kalau aku ini kekasihnya”. Beberapa detik kemudian, Seunghyun berteriak kesakitan karena kakinya di injak oleh Yuna.
 “Heh, siapa yang berpacaran denganmu? Aku tidak merasa tuh” omel Yuna.
“Tapi aku merasa,tuh” jawab Seunghyun dengan ringannya sambil menampilkan cengirannya.
“Heol, aku tidak pernah merasa berkencan dengan seseorang yang bernama Song Seunghyun!” cibir Yuna
“Tidak pernah berkencan denganku? Kalau begitu pada malam minggu tunggulah aku di rumahmu karena aku akan menjemputmu untuk berkencan” balas Seunghyun kemudian ia berlari menghindari Yuna yang akan bergerutu.
 “Ya! Seunghyun! Jangan lari!” Yuna hendak berlari mengejar Seunghyun. Namun ia teringat pada adiknya yang bingung melihat tingkah mereka. “Ah, Chanmi-ya, aku pulang duluan ya. Kau juga harus hati hati di perjalanan pulangmu. Sampai Jumpa” ucapnya setengah berteriak kemudian ia melanjutkan untuk mengejar Seunghyun yang sudah berlari keluar dari gerbang. Chanmi yang melihat tingkah keduanya itu hanya bisa menggelengkan kepalanya.
                                                              ***
“Huh, tak menyangka bahwa jadi mahasiswa akan pulang semalam ini” keluh Chanmi saat di perjalanan pulang tepatnya di daerah rumahnya. Ia mengambil handphone yang ada dikantong celana dan melihat jam pada layar handphone tersebut. Terlihat di layar menunjukkan jam 06.27 pm.
“Apa aku juga pernah pulang pada saat waktu seperti ini saat aku masih SMA?” tanyanya pada diri sendiri. Bebebrapa menit kemudian ia sampai pada rumah minimalis tempat tinggal barunya bersama suaminya dan dia memasuki halaman rumah tersebut. Berhadapan pada pintu utama dan mengetuk pintu tersebut.
“Aku pulang~” dan ia pun kembali mengetuk pintunya.
Tak lama pintu nya terbuka dan muncullah sosok suaminya itu. “Ah, ternyata kau sudah pulang” seru Minhwan sambil tersenyum senang melihat kedatangan Chanmi.
“Mianhae, Minhwan-ssi. Aku pulang terlambat. Sebenarnya tadi aku pulang jam empat sore. Hanya saja tadi menunggu bis nya cukup memakan waktu dan lagi di perjalanan terkena macet.” Tutur Chanmi sambil menundukkan kepalanya karena takut Minhwan marah padanya.
Tangan kanan Minhwan menepuk lembut ujung kepala Chanmi dan ia masih tersenyum. “Bukan suatu masalah kok. Akupun waktu masih kuliah juga sering pulang malam. Apalagi hari pertama masuk. Ya pasti aku makhlumi lah”
“Aku kira kau akan marah padaku…”
“Hahaha. Apa aku punya alasan untuk memarahimu? Sudahlah ayo masuk. Aku sudah menyiapkan makan malam untuk kita berdua” ucapnya sambil berlalu masuk menuju ruang tamu yang diikuti oleh Chanmi.
Kemudian setelah memasuki rumah itu, Chanmi menutup pintu utamanya dan kembali menyusul Minhwan. “Kau menyiapkan makan malam? Lagi lagi kau yang harus kerepotan atas ini semua.”
Minhwan membalikkan badannya untuk melihat Chanmi. “Sudah kubilang, ini bukan suatu masalah. Yasudah, sekarang kau ganti baju dulu lalu mandi. Kalau sudah selesai, cepatlah kesini. Aku menunggumu di dapur ya?”kemudian ia mulai melangkah menuju dapur.
Sementara Chanmi masih tampak kebingungan. Merasa tidak enak karena ia merasa tak dapat melayani suaminya itu. Namun otaknya kembali berpikir. Jika ia berlama lama berdiri di tempat itu dan hanya memikirkan atau menyesali apa yang sudah terjadi, justru makin membuat dirinya tidak berguna. Segera ia melangkah menuju kamar untuk ganti baju dan membasuh tubuhnya
                                                           ***
Chanmi menuruni anak tangganya kemudian berlari lari kecil menuju dapur. Sesampai di daput dilihatnya Minhwan sudah menunggunya di meja makannya.
“Ah, Minhwan-ssi, apa aku membuatmu lama menunggu?” tanya Chanmi
Minhwan yang sedari tadi menundukkan kepalanya kini mengadahkan kepalanya untuk melihat kehadiran Chanmi. Dilihatnya Chanmi memakai kaos putih berlengan panjang yang ukurannya terlihat kebesaran di badannya dan celana hitam pendek. Hal itu berhasil membuat Minhwan menelan ludahnya saat melihatnya.
Chanmi….Chanmi. Bahkan ketika kau sudah amnesia pun kau tetap melakukan kebiasaanmu. Memakai celana pendek sebagai pakaian sehari harimu dirumah. Aish! Kau membuatku gila!  Batin Minhwan
Chanmi baru menyadari bahwa daritadi mata Minhwam melihat pada penampilannya. Ia mengecek pada penampilan dirinya. Memastikan bahwa tak ada yang salah pada dirinya.
“Hm, Minhwan-ssi” panggil Chanmi yang dapat menyadarkan Minhwan dari lamunannya. “Apa ada yang salah dengan pakaianku?”
“Ee…sebenarnya sih..hm…biasa saja. Hanya saja…aku sedikit gugup saat melihatmu memakai celana sependek itu” ucapnya penuh dengan rasa gugup.
“Ah, mianhae, Minhwan-ssi. Aku memang terbiasa memakai celana pendek saat dirumah” ujar Chanmi
“Ah sudahlah” Minhwan membuyarkan suasananya yang canggung. “Ayo, kita makan. Perutku sudah sangat lapar”. Mendengar suaminya bahwa ia sudah lapar, Chanmi langsung menarik kursinya dan duduk di kursi tersebut. Kemudian ia mulai mengambil nasi dan meletakkannya di piring miliknya. Begitu juga dengan Minhwan. Masing masing dari mereka mengambil lauk yang berbeda.
Setelah selesai, barulah mereka mulai makan dengan makanan yang ada pada piringnya masing masing. “Oh iya bagaimana hari pertama di kampus?”
“Hm…menyenangkan. Tapi juga menyebalkan. Jaehyun oppa selalu membuatku merasa kesal. Mungkin dia dendam padaku karena aku lebih dulu menikah sementara dia mendapatkan kekasih saja belum.”
Mendengar Chanmi bercerita membuat Minhwan terkekeh. Ia begitu gemas pada istrinya ini. “Lalu, apa yang menyenangkan bagimu?”
“Hm…aku bertemu dengan senior lamaku disana. Youkyung unnie dan Yuna unnie. Aku senang bisa satu universitas lagi dengan mereka. Dan tadi aku mendapatkan teman baruku yang kebetulan satu ekskul dance denganku. Namanya Seolhyun. Anak itu memang cantik dan manis sih. Kemudian…” Minhwan terus memperhatikan Chanmi yang asik menceritakan hari pertamanya di kampus. “Kemudian apa, chan?” tanya Minhwan penasaran
Hm…apa aku harus bercerita tentang Hae songsaenim? Tapi kalau aku bercerita…ya kemungkinan Minhwan tak akan marah. Tapi bagaimanapun, dia kan suamiku. Aku tak boleh menceritakan hal ini
“Ah, kemudian, kulihat Yuna unnie sudah mulai berkencan dengan seorang lelaki yang bernama Song Seunghyun. Mereka sangat lucu kkkk~ entah kenapa aku senang saja melihat mereka”
“Ah begitu” balas Minhwan menanggapi cerita Chanmi
Ternyata Songsari sudah punya kekasih toh? Kenapa dia tidak cerita padaku kalau dia punya seorang gadis? Dasar curang! Awas kau Song Seunghyun
“Hm..Minhwan-ssi, apa kau yang memasak ini semua untukku?”
“Tentu saja. Apa ada yang kurang Chanmi-ya?”
Chanmi menatap pada semua makanan yang ada pada meja makan. “Omona, aku juga merasa tak enak denganmu…”
“Tak enak kenapa? Santai sajalah, Chanmi-ya~”
“Katakan padaku. Apa yang harus aku lakukan untuk membalas semua ini?”
Mendengar hal itu membuat senyuman Minhwan semakin mengembang. “Kau benar benar ingin membalasnya?” Chanmi mengangguk dengan antusias.
“Kalau begitu…” Minhwan mulai menatap Chanmi dengan lekat. “Panggil aku…Minhwan oppa”
Chanmi tercenga mendengarnya. “Hanya itu?”
“Hey, itu memang suatu hal yang kecil. Tapi berpengaruh besar untuk diriku, Chan. Jujur saja, aku sedikit risih bila kau panggil dengan begitu formal. Kita ini kan sudah resmi menjadi suami istri. Sudah saatnya kau memanggilku dengan sebutan ‘oppa’ “
Chanmi pun terdiam dalam kebingungannya. “hm..baiklah….Minhwan oppa” tuturnya. Seketika ia memegangi kepalanya yang terasa sakit seperti ditusuk tusuk oleh paku. Terdengar rintihan kesakitan darinya. Tiba tiba saja ia membayangkan seseorang. Namun seseorang yang sedang ia bayangkan itu tak terlihat jelas. Ia juga membayangkan ada suara seorang gadis memanggil “oppa…oppa” dengan manjanya. Ia tak dapat membayangkan gadis tersebut. Hanya suaranya saja yang dapat ia bayangkan.
Dirasakan kepalanya semakin terasa sakit. “aarrgghh!” rintihnya ketika kepalanya semakin terasa seperti tertusuk paku.
“Chanmi-ya!” Chanmi mengadahkan kepalanya ketika seseorang memanggilnya. Seketika kepalanya terasa ringan. Tidak sesakit sebelumnya. Dilihatnya wajah Minhwan yang begitu khawatir. “Minhwan…oppa” ucapnya lemah. Otaknya butuh berpikir sepersekian detik untuk tidak keliru memanggil Minhwan.
“Ada apa denganmu, Chan?” tanya Minhwan. “entahlah oppa…” ucapnya yang masih terdengar lemah.
“Tiba tiba saja kepalaku sakit dan…aku membayangkan seseorang yang tidak aku ketahui…ada seorang gadis yang memanggil orang itu dengan sebutan ‘oppa’ tapi…tapi aku tak dapat melihat gadis itu”
“sstt..sudahlah. Sekarang kau istirahat saja. Ayo” Kedua tangan Minhwan mulai mengangkat badan Chanmi dan membawanya menuju kamar.
 “Oppa? Kau menggendongku lagi? Aku bisa berjalan sendiri oppa~”
Minhwan menggelengkan kepalanya. “Aniya, Chan. Kau bisa saja terjatuh nanti. Sudah percaya saja padaku” Minhwan pun melanjutkan langkahnya dengan membawa Chanmi ke kamarnya.
Sesampai di kamarnya, Minhwan meletakkan Chanmi pada tempat tidur. “Sudah ya? Kau istirahatlah yang baik. Selamat malam Chanmi-ya. Mimpi yang indah~”
“Ah, Minhwan oppa!” panggil Chanmi yang membuat langkah Minhwan terhenti saat ingin keluar dari kamar. “Bolehkah aku meminta sesuatu?”.
Minhwan membalikkan badannya sambil tersenyum pada Chanmi. “Tentu. Katakan apa yang kau inginkan?”
“Oppa…” Chanmi memberanikan diri untuk melihat Minhwan tepat di kedua mata Minhwan. “Oppa, maukah oppa tidur disebelahku?”
DEG!
Seketika Minhwan merasa jantungnya berdegup kencang. Tubuhnya terasa kaku saat ia mendengar apa yang dikatakan gadis itu apalagi saat gadis itu menatap matanya
Chanmi…aku mohon jangan sekarang…aku benar benar tak ingin membuatmu hancur Chanmi…
“Oppa…” panggil Chanmi pelan. “Chanmi takut…” terdengar suara Chanmi begitu gemetar. Perlahan Minhwan berjalan mendekati Chanmi dan kemudian mengambil posisi di sebelah Chanmi di tempat tidur. “Oppa…Chanmi…” terlihat wajah Chanmi yang ingin menangis dan terdengar isakannya, membuat Minhwan merasa tak tega.
“Jangan takut, Chanmi-ya” ucapnya lembut. Perlahan tangan Minhwan menyentuh kepala Chanmi dan kemudian ia membelai lembut kepala gadis itu. Detik demi detik isakan dari mulut Chanmi mulai menghilang dan setelah beberapa menit kemudian Chanmi tertidur. Minhwan pun menyadari bahwa Chanmi sudah pergi ke alam mimpinya.
“Jaljayo” bisiknya lalu ia mencium kening gadis yang sudah tertidur lelap. Minhwan pun segera turun dari tempat tidur tersebut dan mulai mengambil langkah untuk keluar dari kamar tersebut sambil membawa bantal dan guling.
                                                             ***
Suasana di kelas begitu tenang karena mahasiswa disana sibuk mencatat materi yang ada pada papan tulis. Chanmi yang sedang terdiam di kelasnya tiba tiba ia dikagetkan pada layar ponsel yang muncul dihadapannya tanpa permisi. Dilihatnya siapa pemilik ponsel tersebut.
“Seolhyun-ah? Aish! Kau membuatku kaget saja” ucapnya sedikit mengomel.
Yang diomeli hanya tertawa untuk menanggapi omelan Chanmi. “Hey, kau lihat dulu layar ponsel ini, Chanmi-ya” ucapnya penuh kegirangan.
Chanmi melihat dengan simak pada layar ponsel teman barunya itu. “Eoh? Nomor teleponnya Hae songsaenim?”
“Sstt..!” Seolhyun member kode pada Chanmi untuk tidak berbicara keras keras. “Hey, aku mendapatkan ini susah tahu. Kebetulan saja kemarin Hae songsaenim membagikan biskuit coklatnya pada anak anak. Dan aku tidak akan menyia – nyiakan kesempatan ini untuk mendapatkan nomornya. Hohoho” tukas Seolhyun.
“Ah sesuka hati saja, Seol-ah” ucap Chanmi yang sedikit malas mendengarkan Seolhyun berbicara karena membicarakan Dosen seperti Donghae adalah suatu hal yang menoton baginya.
“Hey, kalian. Bukannya menulis malah mengobrol” ujar Donghae yang menghampiri mereka berdua.
“Ah, songsaenim. Kita ini sedang membicarakan coklat biskuit yang kau berikan kemarin. Chanmi bilang coklatnya manis dan ia menyukainya” seru Seolhyun.
“Ah benarkah itu, Chanmi-ssi?” Donghae menoleh pada Chanmi. “Ah, iya. Biskuit buatan ibumu sangat enak” jawab Chanmi dengan sopan.
Huh, padahal kan aku belum mencoba biskuit coklat itu. Ini semua gara gara si derpy Jaehyun oppa yang menyebalkan itu!
“Iya, coklat itu manis…seperti dirimu, Chanmi-ssi” ujar Donghae dengan lembut kemudian menatap Chanmi. Gadis itu hanya merasa kebingungan ketika ditatap oleh Dosen tersebut.
“Ah, songsaenim!” teriak salah seorang mahasiswa yang berkacamata yang posisinya cukup jauh dari Chanmi dan Seolhyun. “Apa aku boleh bertanya sesuatu?”
Donghae pun berjalan menuju mahasiswa yang memanggilnya. “Ada apa?”
“Huft syukurlah anak itu datang sebagai penyelamat” kata Seolhyun.
“Memangnya kenapa, seol-ah?” tanya Chanmi keheranan.
“Huaah, Chanmi-ya~ aku cemburu padamu” isak Seolhyun
“Eoh kenapa?” tanya Chanmi heran
“What?? Kau tak menyadarinya? Hae Songsaenim menatapmu begitu……Omo~ andai aku juga mendapatkan tatapan itu. Pasti aku lebih bersemangat untuk hidup” ucap Seolhyun mendesah bahagia. Chanmi yang melihat tingkah temannya itu hanya bisa membiarkannya. Ia hanya bingung mengapa Dosen itu menatap Chanmi begitu dalam. “Oh iya, Chanmi-ya, hari ini kau jangan langsung pulang ya? Soalnya ekskul dance akan mulai latihan hari ini. “Ah jinjja?”
                                                         ***
Chanmi menekan beberapa tombol yang ada ada ponselnya kemudian ia menekan tombol hijau. Ponsel yang dipeganginya diposisikan di sambil telinga kanannya.
“Yoboseyo, Minhwan oppa? Oppa aku hari ini pulang terlambat ya……iya Seolhyun baru saja memberitahuku hari ini bahwa latihan dance nya dimulai hari ini. Boleh kan oppa?....iya pasti…gomawo oppa, kalau sudah selesai aku akan langsung pulang…” ia pun menekan tombol merah pada ponsel tersebut dan menaruknya di kantong celana jeans hitam yang ia kenakan. Kemudian ia melangkah menuju suatu ruangan untuk latihan dance.
Sesampai di ruang tersebut, ia langsung memasuki ruangan itu. Matanya berkeliling mencari sosok seseorang yang mungkin dapat ia kenali. Terlihat sosok seorang Seolhyun sedang duduk di belakang di antara anak anak lain yang duduk di lantai. Langsung saja, kaki Chanmi melangkah pada Seolhyun.
“Apa aku terlambat?” tanya Chanmi pelan. “Karena tadi aku harus mengabari pada oppa ku bahwa aku akan pulang terlambat”
“Tidak kok. Pelatih nya saja belum datang” balas Seolhyun. Mata Seolhyun tertuju pada cincin yang melingkar di jemari manis Chanmi. Tanpa permisi, tangan Seolhyun langsung mengambil tangan Chanmi.
“Aigo~ indah sekali cincin ini. Sepertinya ini cincin emas asli”. Pemilik cincin itu hanya bisa tersenyum menanggapinya. “
Darimana kau mendapatkan cincin ini?” tanya Seolhyun pada Chanmi.
“Itu dari ibuku” jawab Chanmi bohong. Ia masih ingat ketika Minhwan memperingatkan padanya bahwa jangan membicarakan pernikahannya dengan Minhwan pada yang lain, bahkan sahabat dekatnya sekalipun. Tiba tiba pintu yang ada pada ruangan tersebut.Muncullah seorang wanita dengan pakaian sport nya. Langsung saja orang orang tersebut bangkit dari posisi duduknya.
“Ya, selamat siang semuanya” sapa wanita itu dengan lugas.
“Siang songasenim” jawab orang orang tersebut dengan serentak dan membungkuk hormat pada wanita tersebut.
 “Perkenalkan, nama saya Lee Da Hee. Panggil saja saya Lee songsaenim.” Ucapnya memperkenalkan diri. “Yap, untuk menghemat waktu langsung saja kita mulai latihannya”. Orang orang pun langsung mengatur posisi dan mulai berbaris. Kemudian mereka mulai latihan dance pada Lee Songsaenim.
                                                           ***
Chanmi dan yang lainnya keluar dari ruangan tersebut karena latihannya sudah selesai. Chanmi berjalan melewati koridor yang terlihat cukup sepi dan gelap. Tiba tiba ia melihat sosok seseorang yang ada didepannya dari kejauhan. Ia mengerutkan dahinya karena penasaran siapa orang itu.
“Chanmi-ssi? Kau kah itu?” Chanmi mendengarkan suara itu dengan saksama. Kalau dari suaranya, seperti itu Hae songsaenim, pikirnya.
“Hae Songsaenim? Iya ini Chanmi” ucapnya setengah berteriak. Tiba tiba sakit kepala kembali menyerang gadis itu. Sekejap ia memegangi kepalanya. Bayangannya kembali menghantui Chanmi bahwa ada sosok seseorang di suatu gang. Sayangnya Chanmi tak dapat melihat dengan jelas siapa sosok seseorang itu. Tak lama bayangan itu diganti dengan dua orang yang saling berkelahi di gang tersebut. Terdengar suara gadis berteriak histeris disana. Dan lagi Chanmi tak bisa membayangkan wajah dua orang itu. Semakin otaknya memaksa itu mengingatnya, semakin kepalanya terasa sakit. Akhirnya tubuh gadis itu mulai ambruk dan sebelum tubuh gadis itu jatuh ke lantai, sudah lebih dulu ditopang oleh tangan seseorang yang menangkapnya
                                                            ***
Mata Chanmi perlahan terbuka, ia melihat beberapa kursi yang penuh diduduki oleh orang. Dirasakan getaran kecil di tempat itu. “Eh ini aku dimana?” tanya Chanmi dengan nada suara yang parau.
“Akhirnya kau sadar juga” tiba tiba terdengar suara lelaki. Chanmi baru sadar bahwa kepalanya tersandar pada bahu seseorang. Dilihatnya siapa pemilik bahu tersebut.
“Oppa?” tanya Chanmi memastikan. Lelaki di sebelah Chanmi yang memakai earphone dan memainkan PSP miliknya itu menoleh pada nya.
“Kau tadi pingsan di kampus. Untung saja aku ada di tempat itu. Kalau tidak, siapa lagi yang akan menolongmu dan membawamu pulang?” ujar Jaehyun dengan ringan. Kemudian ia kembali memainkan PSPnya.
“Oppa?” panggil Chanmi namun orang yang dipanggilnya hanya terdiam memainkan PSPnya. “Oppa, bukannya tadi ada Hae Songsaenim?”.
etelah beberapa detik kemudian, akhirnya ia mulai berbicara. “Aku tidak melihatnya” ucapnya tanpa melepas tatapannya pada layar PSP. “Aku hanya melihat dirimu akan jatuh setelah itu aku mengangkatmu”
Padahal tadi aku mendengar suara Hae songsaenim. Apa tadi aku halusinasi? Tapi suara tadi benar benar seperti suara Hae songsaenim
Tak terasa getaran kecil pun mulai tak terasa. Menyadari hal itu, Jaehyun langsung mematikan PSPnya dan melepaskan earphone yang ada ditelinganya. Dengan cepat ia menggandeng Chanmi dan menarik keluar dari tempat itu. Akhirnya mereka turun dan keluar kemudian tiba di halte perhentian bis. Namun tangan Jaehyun tidak lepas dari tangan Chanmi. Ia tetap menggandeng adiknya dan melangkah menuju daerah perumahan dimana Chanmi tinggal saat ini. “Oppa? Kau tidak pulang?”
“Bagaimana aku bisa pulang sementara dirimu sendiri saja harus ku gandeng”
“Aku bisa jalan sendiri kok oppa…”
“Ah, aku tak yakin. Kupastikan kepalamu masih terasa sakit. Iya kan?” Mendengar hal itu, Chanmi hanya bisa terdiam. Memang kepalanya masih terasa sakit walaupun tidak separah saat di koridor tadi. Tak lama tibalah mereka di depan rumah minimalis dimana Chanmi tinggal. Mereka memasuki halaman sekolah dan sampai pada pintu utama.
“Hyung~ Hyung” panggil Jaehyun sambil mengetuk pintu utamanya. Tak lama pintu terbuka dan muncullah sosok seorang Minhwan.
“Jaehyun-ah, ada apa kau kemari?” tanya Minhwan yang terlihat sedikit kaget. Matanya memutar ke arah sebelah Jaehyun. Dilihatnya wajah istri itu pucat dan lemas. “Dan…ada apa dengan Chanmi?”tanyanya penuh khawatir sambil menarik Chanmi dengan perlahan masuk ke rumah.
“Dia hanya kelelahan hyung karena tadi latihan dance” jawab Jaehyun. “Yasudah ya, hyung? Aku harus pulang dulu.” Pamit Jaehyun.
“Ah, kau tak ingin masuk dulu?” ujarnya menawarkan.
“Tak perlu hyung. Ini sudah malam. Aku harus pulang. Terima kasih” Jaehyun membungkuk hormat pada Minhwan kemudian ia melangkah pergi dari rumah itu. Minhwan menutup pintu utamanya dan menghampiri Chanmi yang terduduk lemas di safa. “Chanmi-ya, ada apa denganmu?”
“Ah oppa…” balasnya yang terdengar lemas. “Aku hanya kecapekan karena latihan dance oppa” perlahan Chanmi bangkit dari posisi duduknya.
“Ah, mungkin aku harus istirahat. Aku benar benar lelah. Mianhae oppa…aku harus istirahat” ucapnya masih terdengar lemas seperti orang yang mabuk.
Ah iya. Kau memang harus istirahat. Biar ku antar kau…”
“Tak perlu oppa…” potong Chanmi. “Aku bisa melangkah sendiri” dengan susah payah Chanmi melangkah menuju kamarnya.
Setelah menunggu Chanmi masuk ke kamar, Minhwan pun bergegas untuk mengambil ponsel dari kantongnya dan menekan beberapa tombol yang pada pada ponselnya. Dihubunginya pada seseorang lewat ponsel tersebut.
“Dia tadi pingsan karena kepalanya sakit. Sepertinya otaknya mulai memaksa dia untuk mengingat masa lalunya” ucap seseorang yang sedang diteleponnya. “Hyung, aku mohon, jagalah Chanmi. Bagaimanapun, dia adalah adikku”
“Aku mengerti” jawabnya pelan kemudian ia memutuskan jaringan komunikasinya dengan Jaehyun
                                                            ***
Dengan riangnya Chanmi melihat calendar yang terpajang di dinding ruang tamu. “Aigo~ selama kuliah aku tak bisa mengingat dengan baik tentang hari, ya?” ucapnya pada diri sendiri.
Untunglah sekarang hari Jumat. Dan besok Sabtu aku libur. Itu artinya aku bisa melayani Minhwan oppa sebagai istri yang baik
“Oppa~” panggil Chanmi dengan riangnya sambil menghampiri Minhwan yang sedang asik menonton TV. Ia mengambil posisi duduk tepat disebelah kiri Minhwan.
“Chanmi-ya” panggil Minhwan menoleh pada Chanmi setelah gadis itu muncul di sampingnya.
“Apa yang ingin kau lakukan untuk besok?” tanyanya lembut.
Chanmi menoleh pada Minhwan dan memberanikan diri untuk menatap matanya. “Aku ingin melayanimu dengan baik seperti apa yang pernah kau layani untukku, oppa. Aku kan ingin menjadi istri yang baik untukmu” ucap Chanmi sambil tersenyum.
Minhwan pun juga tersenyum melihat Chanmi dan masing masing dari mereka membiarkan waktu berlalu untuk saling bertatapan.
“Aku tak mau” ucapnya masih tetap tersenyum, membuat Chanmi menjadi bingung.
“Eoh? Kenapa?”. Lengan tangan kirinya merangkul pada Chanmi dan perlahan sedikit menariknya untuk mempersempit jarak di antara mereka.
 “Aku ingin…kau ikut aku untuk…berkencan” ujar Minhwan sambil tersenyum lembut.

“Eoh? Kencan?”